Sore itu, kembali penulis menuju mall yang terletak di jantung kota jakarta, untuk bertemu dengan customizer diecast yang karyanya sudah banyak dibicarakan oleh penyuka diecast, bukan hanya di dalam negeri, tapi juga mancanegara.

Karyanya dikenal karena finishing yang rapih, atensi terhadap detail yang tingkatannya teramat tinggi, dan tata letak grafis serta desain yang tepat sasaran.

Saat penulis tiba di toko beliau yang terletak di lantai satu mall tersebut, terlihat beliau sedang mengobrol dengan seseorang. Setelah bersalaman, akhirnya penulis dapat bertatap muka langsung dengan salah satu customizer yang wajahnya enggan dikenal tapi karyanya dikagumi hingga mancanegara. Karismanya menyesaki ruang toko mungil itu dan sambutan ramah yang tulus langsung terasa. What a character.

Diiringi musik metal sebagai suara latar dan kopi hitam, kami pun bersiap untuk memulai obrolan sore itu.

Baiklah, tanpa harus menunggu lama. Berikut hasil wawancara kami dengan Om Grandz Basalama.

Pertama kali kenal diecast kapan?

Sebenarnya pertama kali kenal diecast itu sudah lama, tapi cuma sebatas sebagai mainan. Sedangkan mulai tau kalo diecast bisa dikoleksi dan dikustom itu kira-kira tahun 2012, gara-gara “diceburin” atau “diracunin”, istilahnya, oleh teman.Pertama kali dikenalin dengan merk Hot Wheels (HW) dan akhirnya keterusan hobi diecast sampai sekarang.

Sebelumnya saya sudah punya koleksi, tapi bukan diecast, saat itu saya sudah mengoleksi model kit (mokit) seperti Tamiya model mobil dan model pesawat. Jadi saat diajak teman main diecast sebenarnya udah ada “garis”-nya yaitu sama-sama mobil, tapi versi skala lebih kecil;

‌Diecast jenis apa yang pertama kali disuka?

Awalnya lebih prefer ke mobil balap, karena dari dulu waktu masih koleksi mokit yang dicari jenis mobil balap, saat mulai koleksi Hot Wheels akhirnya tetap fokus ngumpulin mobil balap sedangkan bentuknya lebih spesifik ke mobil sedan;

Hal apa yg diperhatikan dan atau paling diingat dari diecast yang pertama kali disuka itu?

Bentuknya. Hot Wheels biasanya bentuknya sudah racing, full body work, ngga standar, beda dengan Matchbox, Waktu itu ngeliat Matchbox kurang tertarik karena modelnya tidak racing, itu sebabnya yang dikoleksi Hot Wheels;


‌Diecast favorit ukuran skala berapa dan kenapa jadi favorit?

Favorit saya skala 1/64 dan fokusan di skala 1/64. Sedangkan skala 1/18 dan 1/43 masih jadi penggembira. Melihat detail di skala kecil itu lebih menarik dan rasanya beda dibandingkan melihat detail di skala besar. Kalo detail di skala besar itu rasanya sudah wajar;


‌Tipe mobil diecast favorit dan kenapa jadi favorit?

Fokusan saya Datsun 510. Saking fokusnya, sampai beli mobil aslinya Datsun 510 (Livery Bre No. 46, mungkin yang pernah ke acara Indonesia Diecast Event sempat lihat mobil itu dipajang di dalam Gedung Balai Kartini.

Red.), itu karena diecast. saya lebih milih mobil klasik jepang, alasannya kenapa, karena mobil klasik jepang itu sederhana, bukan sesuatu yang mewah, bukan orang kaya yang punya mobil klasik jepang, malahan orang menengah ke bawah yang simpel yang punya. Saat Datsun 510 pertama kali masuk Indonesia, mobil ini disebut bukan sesuatu yang mewah, bahkan disebut sebagai “poor man BMW”. Mobilnya humble, mobil standarnya ngga kencang, tapi bisa dibikin kencang, selain itu bisa dimodif dengan teknologi baru, itu kenapa saya fokus koleksi Datsun 510.

Selain Datsun 510, saya juga koleksi Nissan Skyline GT-R Hakosuka yang coupe (Nissan Skyline GT-R KPGC10). saya suka Hakosuka karena detail desainnya. Saat pertama kali liat bagian mukanya Hakosuka (muka standarnya ya), duh, susah dijelasinnya, harus liat sendiri dan nilai sendiri baru bisa tau kenapa Hakosuka ikonik. Setelah itu baru liat samping, belakang, dan bodi keseluruhannya, desain keseluruhannya matching. Kalo lihat Datsun 510 seperti adiknya yang lebih halus, kalo Hakosuka abangnya yang lebih galak. Sebenarnya pengen punya mobil asli Hakosuka tapi karena rare, akhirnya beli Datsun 510;


Merk diecast favorit dan kenapa jadi favorit?

Hot Wheels karena paling mudah didapat dan (relatif) mudah dikustom. Untuk merk yang lain, saya suka Mini GT, produk dari TSM. Setelah dibandingin dengan Tarmac dan Inno, cat dan detail lebih rapih dan “sopan” Mini GT;


‌Livery favorit di diecast dan kenapa jadi favorit?

Livery favorit, Bre, karena Datsun. Desainnya simpel, two tone, garis dua cukup, dan ngga macem-macem. Sebenarnya kalo livery favorit banyak, tapi jadinya ngga kepikiran, karena banyak banget;

Bisa diceritakan bagaimana proses awal mulai nge-kustom diecast?

Saat mulai “keracunan” diecast, saya mulai menemukan kekurangan dari Hot Wheels, mulai dari situ lanjut ke kustom dan kegiatan kustom ini mulai dilakukan ngga lama setelah mulai koleksi diecast di tahun yang sama, tahun 2012, karena sebelumnya sudah pernah ngoprek-ngoprek mokit jadi sudah punya basic untuk kustom. Kekurangan dari HW, kebanyakan modelnya walaupun racing tapi belum ceper, tinggi semua fitment roda mobil-mobilannya, “gatal” ngeliat kondisi standar HW, akhirnya ngebor HW, belajar nyeperin, dan belajar ganti ban. Setelah itu ko’ masih ada yg kurang ya, design livery-nya kurang ya, ngga banyak variasi dan kaku, apalagi kalo kita biasa lihat livery di jalanan seperti contohnya livery ‘Penzoil’ ko’ tidak ditemui di HW ya, masih terbatas desain livery di HW saat itu, makin gemas liat kondisi livery standar HW, lanjut mulai ngulik cara desain livery dan ngulik cara ganti cat.

Pas mulai ngulik kustom tampilan HW, ketemu dengan customizer Jepang, Hells Dept, Ngeliat karya Kojiro dan Kazy, gila banget hasil kustom-an mereka, keren, out of the box. Mereka tumpahin ide desain mereka yang bernuansa kultur jepang dengan ciri khas masing-masing customizer ke dalam mobil diecast. Sehabis itu, semakin semangat ngulik cara bikin decal. Kemudian ketemu teman sesama kolektor di facebook, ternyata tetanggaan, akhirnya belajar bikin decal dari dia. “Bisa nih bikin livery yang lu desain dipasang ke HW, pake decal” jelas teman saya. “Decal itu apa?” saya tanya lagi. Dia jelasin decal itu cetakan yang biasa ditempel di cangkir atau mug, kemungkinan bisa ditempel di diecast. Dia yg pertama kali ngasih kertas decal, setelah trial and error beberapa kali, hancur, dan gagal berapa kali, akhirnya berhasil bikin decal untuk pertama kali. Setelah itu mikir gimana cara ngelunturin cat aslinya “Pakek paint remover/soda api”, teman saya ngasih tau. Ngecat ulangnya pake apa? Teman saya ngasih tips lagi,“Pakek pylox aja”.

Pertama kali berhasil ngecat ulang dan aplikasi decal itu livery K&N, cat utamanya warna putih dan decalnya dominan merah dan oranye. Kenapa milih K&N? karena livery K&N simpel, produk balap juga, dan kombinasi warnanya eye catching. Cocok untuk saya yang (saat itu) baru pertama kali pasang decal.

Diecast yang di-kustom pertama kali adalah HW Nissan Titan (Didesain oleh Jun Imai), bukan sedan, pick-up malah. Senangnya pakai Nissan Titan karena aslinya udah ceper jadi ngga perlu nyeperin lagi, tinggal ganti ban, hehehe. Senang banget waktu pertama kali berhasil kustom diecast;

Bersambung Bagian II..