image-slider

Di satu siang yang mendung, Diecast Tuner (DT) meluncur ke salah satu mal di selatan Jakarta yang menjadi salah satu poros skena diecast di Indonesia, siang itu DT akan melakukan wawancara dengan ketua Indonesia Diecast Syndicate (IDS). Kami bertemu di salah satu toko diecast 1/18 yang berada di tengah lantai 1 dan kemudian kami ngobrol singkat sembari menunggu pengerjaan kustom wheels swap salah satu koleksi diecast 1/18 miliknya di toko tersebut.

Berikut hasil wawancara singkat DT dengan Antoni Kondar yang dilakukan di salah satu sudut lantai yang dipenuhi toko-toko sepeda.

  • Pertama kenal diecast kapan? Sejak balita, pertama dikenalkan oleh orang tua, dikasih mainan diecast;
  • Kenapa akhirnya jadi suka diecast? Karena aku suka otomotif, mungkin orang lain suka ngumpulin poster atau brosur mobil impiannya, kalo aku suka ngumpulin miniatur mobil yang diinginkan, karena belum kesampaian beli yang 1:1, paling tidak aku punya miniatur modelnya terlebih dahulu;
  • Diecast apa yang pertama kali disuka dan kenapa disuka? Banyak, tapi saat pertama kali koleksi, aku fokus ke mobil-mobil jepang (termasuk model JDM seperti Skyline GT-R); disuka karena Skyline GT-R itu legenda di dunia otomotif;
  • Sejarah terbentuknya IDS bagaimana? Sejarah IDS aku tidak begitu detail menjelaskannya, founder IDS di Bandung yang bisa menjelaskan secara detail. Sebenarnya saat aku masuk, IDS sudah terbentuk. Kemudian mereka (founder) lihat aku aktif di beberapa komunitas, akhirnya aku dipercaya sebagai ketua;
  • Ke depannya IDS akan seperti apa? Komunitas IDS saat ini dalam masa di mana karena anggota IDS semakin dewasa, yang sebelumnya sekolah, sekarang kuliah; yang dulu kuliah, sekarang kerja; otomatis jadi berlipat kesibukannya dan tanggung jawabnya karena itu animo aktivitas jadi berkurang. Sebenarnya kami sempat pesimis dengan acara yang baru-baru ini kami adakan (Kopdar Diecaster). Karena itu, untuk menggairahkan lagi, aku ajak teman-teman di IDS untuk lebih jadi support komunitas, tidak hanya diecast, tapi juga komunitas-komunitas lain untuk bikin event bareng;
  • IDS terlihat egaliter, inklusif, dan anak muda banget, apa ini direncanakan sejak awal atau bagaimana? Sebenarnya senioritas atau istilah pembeda apapun itu dilihat dari pandangan luar (orang lain). Kalau kami berharap ngga ada sebutan “sultan” atau “senior” atau sebutan lainnya dalam komunitas, makanya kami dalam event Kopdar Diecaster ingin merangkul semua komunitas, ingin merangkul semua kolektor, karena menurut aku, komunitas tidak hanya dinikmati oleh anggota komunitas itu sendiri, tapi juga berkegiatan bersama (kerja bareng) dengan komunitas-komunitas lain;
  • Tips dan trik untuk membesarkan komunitas? Kita sebagai pencinta diecast, walaupun sudah hobi, bisa suatu saat merasa bosan. Tapi sebagai pecinta diecast, kita tetap mengenalkan hobi kita itu di kopdar komunitas lain atau event-event komunitas lain, jadi tidak fanatik dengan komunitasnya sendiri dan semakin meluaskan pergaulan. Selain itu, IDS juga tidak ada pembagian skala diecast, skala apapun bisa masuk, skala apa pun kami welcome;
  • Diecast favorit ukuran skala berapa dan kenapa skala itu jadi favorit? Sekarang skala 1/18 dan baru keracunan skala 1/64. Skala 1/18 jadi favorit karena detailnya. Aku juga koleksi skala 1/43. Skala 1/43 dan 1/18 aku koleksi karena lebih condong ke miniatur model, jadi lebih detail;
  • Model favorit dan kenapa jadi favorit? Model mobil jepang (JDM, Nissan) dan mobil eropa (BMW). Jadi favorit, balik lagi, karena itu mobil impian, sebenarnya banyak banget mobil asli yang diimpikan, jadi, paling tidak, walaupun hanya miniatur, hal itu sudah cukup memuaskan;
  • Kalau dilihat dari tulisan ulasan diecast Antoni di Instagram atau Facebook, terlihat kritis, terbuka, dan sarkas. Kenapa memilih gaya bahasa tulisan demikian? Kalo bercanda sarkas biasanya bales komenan dari teman. Kalo gaya bahasa ulasan, begini, kadang ada pengulas yang terlalu fanatik dengan satu merek, karena fanatik, jadi apapun yang merk itu buat, walaupun produknya jelek, tetap mereka bilang bagus, jelek-jeleknya, kekurangan-kekurangannya ngga diungkapin. Kenapa aku membuat ulasan dari koleksi diecast aku dan kemudian nge-share di sosial media, bukannya aku pamer atau apa, aku buat ulasan karena ingin memberikan gambaran ke teman-teman yang ingin mulai koleksi diecast, mana barang yang bagus, kelebihannya apa dan kekurangannya apa. Gunanya ulasan, menurutku, yang membaca ulasan bisa memperkirakan
    barang yang mereka inginkan itu seperti apa kualitasnya. Kalau ulasannya bagus sedangkan realitanya biasa aja, kolektor bisa jadi down, ko’ tidak sesuai ulasan, ya? Apalagi kalo harga barangnya tinggi.
    Oia, ada hal lain yang ingin aku ungkapin, sekarang ini kecenderungannya kolektor lebih memilih fokus ke barang langka (rare)/(hot item). Padahal semua diecast akan langka pada saatnya. Rare (hot item) menurut satu orang, belum tentu rare untuk orang lain, dan belum tentu laku. Contoh, barang tertentu harganya tinggi di ebay, kemudian seseorang jual barang itu dengan harga sesuai ebay, apakah barang itu langsung laku? Belum tentu. Kolektor fokus ke barang rare (hot item) sebenarnya ngga salah selama barang itu benar-benar dia suka, tapi yang disayangkan adalah kalo hobi koleksi diecast itu dipersepsikan hanya koleksi diecast yang rare (hot item), padahal hobi itu lebih untuk dinikmati dan sebenarnya tidak perlu ngikutin kata orang atau sekadar ikut tren. Kepuasan atau kenikmatan dari hobi koleksi itu salah satunya adalah saat ngejar diecast yang kita incar, harga berapapun akan kita usahakan karena alasannya kuat, barang itu kita suka, bukan karena itu barang rare (hot item) atau barang itu sedang tren (booming);
  • Suka atau tidak dengan openable diecast di skala 1/64? Alasannya? Bagus, ko’. Seiring munculnya merk-merk baru di skala 1/64 kelas premium, merk-merk yang sudah eksis di pasaran supaya tetap berkembang (tidak stagnan), mengikuti jaman, dan tetap bersaing di pasar, mereka melakukan inovasi, salah satunya dengan memunculkan kembali model diecast openable;
  • Diecast impian yang ingin dimiliki? Saat ini ngincer model Nissan Skyline R30 Silhouette skala 1/18 produksi pabrikan Autoart. Karena bisa dibuka semua bodinya dan detail;
  • Apa yang terbayang yang ada di rak diecast Antoni Kondar di masa yang akan datang? Karena ada tiga skala yang aku koleksi (1/64, 1/43, 1/18), ke depannya mungkin aku akan menambah koleksi tiga skala itu. Selain itu aku juga akan menambah lemari dan rak untuk skala 1/18 karena rak yang ada sekarang sudah penuh;
  • Livery favorit di diecast? Aku sebenarnya lebih suka yang polos catnya. Untuk balap aku suka livery dari tuner house, seperti Nismo dan HKS (warna dominan hitam, strip warna-warni);
  • Skala 1/64 Blister atau loose? Jujur, aku setiap beli biasanya ambil dua, satu untuk di-loose, satu tetep di blister;
  • Kalo bisa menentukan, mobil atau motor apa yang ingin dibuat miniatur diecastnya? Banyak, sih, tapi utamanya mobil yang beredar di Indonesia, seperti Kijang kapsul, Kijang kotak, atau Panther. Karena banyak yang DM (Direct Message) ke Instagram aku menanyakan, “Om, ada diecast Etios atau Calya, ngga?”. Secara umum, mobil yang populer di jalanan Indonesia sepertinya menarik untuk dibuat;
  • Banyak merk baru diecast yang menyasar kelas premium (utamanya skala 1/64), yang paling menarik perhatian Antoni Kondar yang mana? Kalo skala 1/64, merk baru yang sedang gencar-gencarnya seperti Tarmac (Works) atau Inno (64) sebenarnya menarik perhatian, sayangnya strategi pasarnya sih agak ngeselin, karena setiap bulannya mereka ngeluarin sekitar empat (4) model baru dengan harga premium sekitar 200 ribu/model, untuk ngejarnya (ngelengkapin) itu lho agak ngeselin, sebenarnya oke kalo setiap bulan ada model baru, tapi jangan terlalu gembar-gembor banget, apalagi dilihat dari kontrol kualitasnya (QC) jadi bermasalah. Contoh, banyak dibahas dalam ulasan (review) pengamat diecast, kalau pemasangan tampo-nya miring-miring. Jangan sampai ke depannya pembeli kecewa karena harga dan kualitas tidak sesuai;
  • Sistem pemasaran tiap merk berbeda strateginya, yang paling menarik dilakukan oleh merk apa? Saat ini yang menarik adalah sistem penjualan Pre Order (PO) (prapesan) untuk merk-merk baru yang disebut di atas, tiap bulan ada model-model baru yang dijual dan bisa di-PO. Jadi mereka (pabrikan) lempar PO ke seller lalu seller lempar PO ke reseller untuk penjualannya. Tapi yang bikin kesel, karena per-bulan ada produk baru dan ada kemungkinan rilisnya bisa mundur, ada kemungkinan barang dateng langsung sekaligus, invoice-nya juga jadi barengan numpuk. Hahahaha!;
  • Mungkin bisa kasih info event terdekat yang akan dilakukan IDS? Di Bandung, di markas kami, rutin diadakan kopdar (kopi darat). Kalo di jakarta, kami akan adakan lagi Kopdar Diecaster di Lippo Mal Puri. Kopdar Diecaster untuk ke depannya tidak menutup kemungkinan akan diadakan di tempat-tempat lain.

END.